Showing posts with label jalanjalan. Show all posts
Showing posts with label jalanjalan. Show all posts

Thursday, June 13, 2013

[behind the scene] necklace photoshoot,,

hai,,
pengen cerita behind the scene pemotretan kalung koleksi baru,,
jadi, saya pengeeeen banget poto-poto kalung kerangnya di pantai,,
pertama, karna pas banget dengan tema kalung,
kedua, saya suka pantai,
ketiga, skalian liburaaaaaaan,, hehehe,,
karna pengen pantai yang berpasir putih,
terpilihlah pantai Somandeng, Gunungkidul,,
sebelumnya memang saya pernah ke sana,,
pasirnya putih [meski nggak sehalus pasir pantai daerah Situbondo, Jawa Timur],
sepi, bersih,, enak banget, pantai serasa milik sendiri,, hahaha,,

dengan perjalanan sekitar 1,5 jam, begitu sampai kami langsung makan,
saking laparnya hahaha,,,
bekal dari rumah plus es degan dari pantai,,
tuh kan, pantainya sepi, padahal ini weekend lho,,
bisa dinikmati sepuasnyaaaa,,
setelah jepret-jepret,, kegiatan menyusuri pantai pun dimulai,,
trus saya nemu kerang yang masih ada penghuninya,,
yup, si keong,, imut banget,,
setelah berhasil diajak keluar, saya poto-poto deh dia,,
tenang,, setelah itu, si keong saya kembalikan ke habitatnya kok :)
oya, ini pose-pose dia,,

selama pemotretan, dengan Mas Bit sebagai juru potonya,
ternyata dia motret 'yang lain' dengan kamera hapenya,, hohoho,,
memang dia fans sejati saya hahahaha,,
1. saya lagi menikmati pantai setelah makan siang
2, 4, 5. waktu saya jadi model
3. saya lagi motret kalung
6. pas saya mainan air
daaaan, kalian bisa liat hasil jepret-jepretnya di sini,,
oya, sebagai penutup ini poto kami berdua,,
meski nggak fokus
dan membelakangi cahaya
hahahaha,,
tapi seneeeeeng bangetngetnget,,
menunggu liburan dan pantai selanjutnya,,
eh, harus ada kalungnya juga ding,,

happy take picture [halah,, kepanjangan] ^___^

Friday, July 13, 2012

Jogja Japan Week,,

haihai,,
sekitar 1 minggu lalu, saya jalan-jalan ke sebuah acara di Jogja yang berjudul Jogja Japan Week,,

Jogja Japan Week adalah acara dua tahunan yang merupakan salah satu wujud apresiasi masyarakat Yogyakarta terhadap jalinan hubungan kerjasama dengan masyarakat Jepang yang sudah terbina selama lebih dari dua puluh lima tahun [sumber: http://www.jogjajapanweek.com/]
 
Dengan tema season, [jadi inget tema monthly challenge-nya IC :p] ruangan-ruangan di dalam gedung disetting dengan menggambarkan 4 musim yang ada di Jepang,, sayangnya saya hanya berhasil memotret dua musim,, di ruangan ini kita bebas berfoto, karena memang disediakan untuk itu,,, katanya si di lantai 2 juga boleh meminjam kimono sebagai properti [sayangnya lagi, saya tidak ke situ huhuhu,,,]
musim semi,,
musim dingin,,
Oiya, di salah satu ruangan, saat itu sedang digelar workshop origami dan di luar ruangan pun ada pameran lukisan origami,, jadi lukisan berbingkai itu menggambarkan sebuah ilustrasi pemandangan yang objeknya terbuat dari karya origami, so wow,, kecil-kecil dan rapi,, bahkan ada lukisan bunga sakura, yang kuntumnya itu buanyak,, jadi mikir, yang bikin ujung jarinya seberapa ya ehehehe,, telaten bener,,


Ada pohon permohonan juga,,

Sebenernya salah dua saya ke event ini adalah pengen ketemu magicfingerssyndicate [MFS] ehehehe,, kebetulan mereka dan teman-temannya lagi buka lapak di sana,, dan sukseslah saya membawa zine edisi ketiga, sudah dinanti-nanti sih,, ehehehe,,, di sana saya ketemu mbak bertha [jangan minta poto-potonya y, karna saya lupa, lagi, hhhh,,,] dan teman-teman.

Oiya, bicara soal zine, di awal bulan diumumin bahwa bagi 75 pembeli pertama akan mendapatkan bookmark bikinan mbak Ika Vantiani,, dan,,, bisa ditebak kan?, saya adalah orang ke-75 yang mendapatkannya [diliat dari penomeran di cover belakang] ehehehe,, nyaris,, coba malem itu gak jadi ke sana,, ehehehe,,,

ini penampakannya,,




eh, setelah buka-buka zine, ada tutorialnya mbak Wildasari Hoste tentang kreasi tutup botol bekas yang dapet 4 bintang, jadi inget masalah 4 bintang untuk artikel tutorial recycle yang pernah saya posting dulu,, ternyata arti 4 bintang itu karena tutorial ini bisa diterapkan ke banyak hal lain :) wow,, berarti punya saya juga ya :3

dan,,,
happy weekend ya :)

Wednesday, June 13, 2012

[akhirnya] ketemu the Mogus,,

Jadi, weekend kemarin, saya pergi ke Jogja karna suatu keperluan,, sebenarnya ada dua tujuan si,, tujuan keduanya sudah jelas pengen liat pembukaan pameran tunggal the Mogus,, ehehehe,,,

Diawali dari taunya saya akan keberadaan mas Moelyana sang kreator The Mogus, beliau ini salah satu anggota Indonesian Crafter, dan salah satu crafter yang menurut saya keren, karna beliau punya karya yang 'Moel banget nih' ehehehe,, dengan teknik merajut, beliau menciptakan moster-moster gurita yang sesuai imajinasinya,, lebih lanjut soal The Mogus, bisa berkenalan di sini,,

akhirnya saya memfollow blog-nya,, sampai beberapa hari yg lalu saya membaca post-nya bahwa beliau akan memboyong gurita-guritanya ke Jogja, di tanggal yg sama dengan kedatangan saya,, maka, dengan bersemangat diantar bit^^, bertemulah saya dengan mas Moel dan para gurita,, secara live,, yaiiiiy,,, :D

karna gambar lebih bercerita, ini poto-poto yang bisa dinikmati ehehehe,,,







si gadisjempol nggak takut sama moster gurita rupanya ehehehe,,,


 hmmm,,, mereka semua terbuat dari benang apa saja ya,, keren,, bikin melongo,, asli,,




Ini dia Mas Moel,, makasii, mas, suda mau berfoto,, berkali-kali lagi ehehehe,,,


Sebenarnya saya pulang dengan tangan tidak kosong,, hanya, stiker dan gantungan kunci-nya belum sempat saya poto,, nanti menyusul deh,, :p

Bagi yang cuman melongo liat poto-potonya,, ayo segera ke Jogja,, pamerannya sampe tanggal 2 Juli 2012 lho,,

Happy handmade :)


potograper: bit^^

Sunday, May 13, 2012

Orang Belanda Tidak Suka Nyusuh*

*nyusuh = menyimpan dan menumpuk banyak barang

Saya paling tidak menyukai kebiasaan orang yang suka mengkoleksi barang, entah pakaian, sepatu atau furniture. Apalagi kalau barang-barang itu didapatkan dengan membeli baru, barang impor, harga selangit. Fungsinya apa coba? Padahal akhirnya tidak semua barang itu terpakai. Bahkan bisa rusak hanya karena disimpan terlalu lama. Sayang banget kan?

Entah karena keluarga saya pelit, terbiasa hidup sederhana, atau bahkan cenderung seadanya [hehehe], saya selalu diajarkan untuk setia pada satu barang. Jadi tidak akan membeli yang baru, sebelum barang itu rusak atau tidak muat. Bahkan dalam keluarga kami ada semacam sistem 'turun-temurun'. Pakaian milik kakak yang suda tidak muat akan menurun pada saya, sedang milik saya akan menurun pada adik. Lalu punya adik? Biasanya akan diberikan pada saudara atau orang lain yang membutuhkan. Bukannya menyepelekan orang tersebut sih, tapi selama barang itu masih layak pakai kenapa tidak diberikan saja pada orang yang lebih membutuhkan.

Dari kebiasaan ini saya mnyimpulkan bahwa saya mampu bertahan hidup di Belanda hahaha,, karena ternyata orang Belanda, terutama di kota Zwolle, juga memiliki kebiasaan yang sama. Mereka tidak suka menumpuk baju, mereka hanya mnyimpan baju yang pasti akan mereka pakai, selebihnya akan mereka sumbangkan.

 Ada 3 cara sih yang bisa mereka lakukan untuk menyumbangkan pakaian-pakaian itu.
Pertama lewat kringloop, yaitu semacam toko secondhand. Jadi orang Belanda bisa menjual pakaian mereka tadi di toko ini. Ada 2 jenis kringloop, yang dikelola oleh swasta atau milik perorangan, dan ada yang milik pemerintah, yang hasil penjualannya akan diserahkan kepada pemerintah untuk dikelola.
Cara kedua yaitu melalui kotak kleeding. Kotak ini adalah semacam kotak sampah yang terbuat dari besi dan khusus diperuntukkan 'sampah' baju. Jadi baju-baju yang akan disumbangkan, dibungkus dengan plastik terlebih dulu baru dimasukkan dalam kotak kleeding tadi.
Yang ketiga bisa melalui yayasan sosial. Jadi secara periodik, petugas yayasan akan memasukkan plastik dan surat ke kotak pos rumah-rumah. Isi surat kurang lebih memberitahukan pemilik rumah bahwa mereka bisa menyumbangkan baju tak terpakai dengan cara memasukkan dalam plastik tersebut dan akan diambil petugas sesuai dengan waktu yang tertera dalam surat tadi.
Wow,, sungguh terencana dan terorganisir ya. Coba kalo di sini, mungkin baju-baju itu akan semakin ditumpuk.
Toko secondhand di Zwolle - sumber foto di sini
  
Oya, menurut teman saya yang tinggal di Belanda, kebiasaan lain orang Belanda adalah cenderung hidup nomaden. Mereka lebih suka menyewa flat/apartemen dengan sistem kontrak. Jika mereka akan pindah, mereka harus mengosongkan rumah yang mereka sewa sebelumnya, kecuali mereka ijin kepada pemilik rumah untuk meninggalkan mebel. Karenanya, mereka harus benar-benar menjaga dan merawat barang mereka dengan baik. Karena seandainya barang mereka rusak dan ingin membuangnya, meraka harus menghubungi dinas sampah setempat, dan membayar mahal pajak sampahnya yang diukur dari per meter kubiknya. Dengan aturan ini, pemerintah berusaha mengurangi sampah di belanda. Hmm,, kreatif juga. Sampah saja sampai di-pajak-kan.
kota Zwolle yang bebas sampah - sumber foto di sini

Dan, sepertinya saya memang ada bakat jadi orang Belanda.

sumber data: Juni Maury - joeneyscraft.blogspot.com
   

Sunday, October 9, 2011

Bukan berarti harus dibuang kan?

Sebenarnya terlambat kalau saya posting kegiatan ini sekarang,, karna saya melakukan pe-riemake-an ini sekitar bulan Juni yang lalu,, tapi tak apalah, daripada si kaos bertanya-tanya terus, kapan dia tampil di blog ini hehehe,,,

Jadi ceritanya diawali dari sebuah kaos pemberian ayah saya, setaun yang lalu mungkin. Entah karena ayah masih berpikir saya ini anak laki-lakinya atau bagaimana, tapi gambar di kaos itu tidak becoming to me hehehe,, [yah, saya masih anak perempuanmu,,] sampai akhirnya kaos itu belum pernah saya pakai,, berniat memberikan pada orang lain pun tidak.

cukup beralasan jika saya tidak mau memakainya hehe,,

Karena merasa sayang telah menyia-nyiakannya, akhirnya saya berniat mendandani kaos itu agar tampak totally me hehehe,, akhirnya saya mencari kaos lain yang bergambar menarik, menyiapkan gunting, cat akrilik, kuas, jarum, dan benang warna warni.

Kaos yang saya gunting gambarnya adalah kaos panitia sebuah acara himpunan waktu saya kuliah dulu, gambarnya masih bagus, tapi kaosnya sudah acakadul hehehe,, Kemudian saya tambahi warnawarni cat dan menjahitnya dengan benang sulam yang warnawarni pula,,

tau kan acara himpunan apa yang saya maksud hehehe,,,

Voila,, akhirnya si kaos bisa keluar dari penampungan [baca: lemari] hehehe,, pertama kali saya pakai kaos hasil pe-riemake-an ini waktu acara jalanjalan bareng teman-teman kerja ke Probolinggo & Jember.

Hmm,, sambil pamer poto-poto yang lain boleh kan,,

Pasir Putih, Probolinggo

bersama teman-teman kerja hehehe,,, [ini poto dari kamera siapa ya,,]

dengan sedikit sentuhan photoshop hehehe,,,

Tanjung Papuma [Jember], harus berjalan mendaki bukit dari Watu Ulo untuk bisa sampai di sana

Baiklah,, selamat meng-DIY-kan apa saja barang kalian,, kalau ada bagian yang tidak sesuai keinginan bukan berarti harus dibuang kan?,

Friday, May 27, 2011

Menjelajahi Belanda Lewat Seni



Ketika SMA kelas 2, saya pernah 'dibaca' bisa sekolah S2 di Belanda karena perusahaan tempat saya bekerja memberikan saya beasiswa. Sejak saat itu, saya jadi tertarik tentang hal-hal yang berkaitan dengan Belanda. Setiap ada berita scholarship ke Belanda di surat kabar, saya selalu membaca dengan antusias. Berharap ada celah bagi saya yang masih buram dunia ke-Belanda-an. Salah satu hal yang cukup melegakan, ternyata Belanda merupakan salah satu negara bukan berbahasa nasional Inggris namun menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar.

Saat di perkuliahan, saya kembali mempelajari satu bagian tentang Belanda. Ketika itu mata kuliah Pendidikan Seni. Disebutkan bahwa pendidikan seni di Indonesia banyak dipengaruhi oleh Belanda. Mungkin karena memang saat itu Indonesia adalah negara jajahan Belanda. Dalam periode perintisan, Belanda menganggap perlu adanya seni dalam pendidikan, sehingga muncullah mata pelajaran menggambar. Dalam perkembangannya, menggambar difungsikan sebagai pembentukan pribadi individu, atau istilahnya education through art. Jadi saat seseorang belajar bagaimana menggambar sebuah benda, dia juga belajar kreatif, sabar, dan teliti. Hal inilah yang diturunkan Belanda pada Indonesia lewat seniman-seniman tanah air yang belajar ke negeri Belanda.




Dengan konsep education through art, warga Belanda belajar bagaimana menghargai karya orang lain, atau ikut memiliki dan menjaga karya seni Belanda. Ini terbukti dengan tetap berdirinya bangunan-bangunan kuno di Alkmaar. Mereka bahkan mendirikan museum-museum yang mempunyai nama sesuai seniman-seniman besar Belanda seperti The Rembrant House Museum, Van Gogh Museum, serta museum-museum seni lainnya yang memajang karya-karya seniman Belanda.

Selain sifat tadi, masih ada sikap-sikap positif di luar seni yang dimiliki orang-orang Belanda seperti disiplin, berpikir tentang masa depan, hemat, tidak suka pamer, dan lain sebagainya. Menurut berbagai sumber yang pernah saya baca, setiap orang Belanda mempunyai sebuah agenda. Apapun yang akan mereka lakukan tercatat detil di dalamnya, dan mereka menepatinya sesuai dengan yang tertulis. Mereka juga tidak suka membuang barang dengan sia-sia, hingga mereka membuat hari khusus untuk mengadakan garage sale, yaitu Queen’s Day, sebuah acara yang ingin saya kunjungi.

Hal-hal inilah, yang mungkin, mengesankan dan mampu menarik minat orang luar untuk lebih mengenal Belanda, datang bahkan tinggal di Belanda. Termasuk saya tentu saja.

Dan saya pun menarik kesimpulan bahwa berbagai hal di Belanda mampu menjadikan Belanda sebagai salah satu negara yang wajib dikunjungi bahkan ditinggali dengan berbagai kepentingan. Bidang seni hanya salah satunya.

So, lets dream to go there and make it true!

-dari berbagai sumber-

*artikel ini dibuat untuk mengikuti lomba kompetiblog-studi di belanda