Thursday, August 18, 2011

Yang telah pergi akan datang kembali…. #3

cerita sebelumnya:

“Nomer hp kamu berapa?”, tanya Bimo.

“Tetep kok. Nggak pernah berubah. Ya, kecuali kalo memori hp kamu kehapus semua”. Bimo tersenyum.

“Pulang dulu ya”, pamitku kemudian berjalan menuju mobil.

______________________


3 tahun. Sudah cukup 3 tahun untuk menghilangkan diri. Agar ak pun jauh dari dia dengan segala ceritanya. Tapi kenapa dia muncul lagi. Kenapa dia muncul justru di saat dia mau menikah. Berbagai pertanyaan yang berawalan ‘kenapa’ terus bermunculan. Untung saja ak masih bisa berkonsentrasi untuk menyetir.

Saat makan malam pun, berbagai ‘kenapa’ itu kembali muncul. Maksudku, untuk apa sih Tuhan menghadirkan dia lagi. Di saat ak sudah tidak menuliskan lagi namanya dalam diaryku.


Selasa, 21okt08, 22.13

Ary,,, lega,,,

Ak udah putus. Mulai hari ini ak uda gak sama Bimo. Awalnya ak kuatir, deg2an. Ak takut gak sanggup bilang ke Bimo. Tapi akirny ak bisa.

Tapi, Ry,,, Sumpah, ak gak tega liat wajah Bimo. Ak kayak pengen meluk dia & bilang “Ini semua bisa nggak terjadi & ak bisa maapin kamu asalkan kamu mau janji untuk brubah”. Tapi ak gak boleh kayak gitu. Ak mesti kuat. Ak gak mau terus-terusan sakit hati sendiri, capek sendiri karna sikap dia. Kamu tau kan udah banyak kali ak maapin dia & banyak kali pula dia ngecewain ak. Nangis? Kayaknya gak perlu,,,

Sekarang ak harus bisa berdiri & berjalan sendiri. Ak harus bisa survive tanpa Bimo karna emang ak bisa. Masih banyak hal yg mesti ak pikirin & masih banyak impian yg harus ak capai.

Tapi, Ry,,, setelah ini ak gak tau akan gimana sikap Bimo. Ah, terserah,,, dia boleh benci ak., dia boleh gak kenal ak, ak akan terima karna ak udah milih jalan ini.

Ry, ak capek. Besok mesti kuliah. Udah dulu ya,,,

22.45


Rabu, 22okt08, 21.52

Ary,,, hari ini ak gak ke himpunan. Abis kuliah ak langsung pulang.

Ry,,, ak masih belum terbiasa. Kayak ada yg aneh gitu. Gak ada yg ak sms. G ada yg nelpon ak. Gak ada yg nawarin nganterin,,,

Ah,,, udah,,,udah,,, gimana sih ak ini.

Ya udahlah, Ry. Daripada tulisanku + ngelantur. Ak tidur,,,

23.38

Kamis, 23okt08, 21.45

Ary, tadi ada kuliah sore. Sambil nunggu, ak ke himpunan dulu. & tau gak ak ketemu sapa? Y iyalah,,, ‘u know who’. Niat baikku buat nyapa dia ilang begitu saja. Tau gak, liat ak aja dia kayak gak mau. OK,,, gak masalah. Duniaku gak bakal hancur tanpa dia.

21.53


Minggu, 26okt08, 20.15

Ary,,, ternyata,,,

Ak masih sayang dia,,, ak masih pengen ketemu dia,,, ngobrol sama dia,,, becandaan sama dia,,, makan siang bareng dia,,, smsan sama dia,,, telpon-telponan sama dia,,, jalan-jalan bareng sama dia,,, gila-gilaan sama dia,,, ngeliat wajahnya,,, denger suaranya,,, senyum buat dia,,, megang tangannya,,, & yg paling penting, ak masih pengen dia manggil namaku,,,

Tapi, Ry,,, ak udah gak bisa & ak harus terima,,,

21.35


Sabtu, 3okt09, 23.07

Ary,,, tadi ak sukses diwisuda,,,

Uh,,, senangnya,,,

Hampir semua temen sekelas diwisuda juga,,,

Uh,,, senangnya,,,

Tapi, Ry,,, tadi ak ketemu ‘u know who’. Udah lama ak gak ketemu dia. 5 bulan lebih mungkin. Tapi ketemu gak ketemu sama aja. Gak bisa ngobrol. Tadi dia ada di wisudaan karna temen-temennya juga ada yg wisuda. Hem,,, kayaknya dia bahagia gitu.

Aaaaahhhh,,,,,,, Deva,,, kamu ini kenapa sih? Katanya udah nggak,,, katanya udah lupa,,, katanya gak pengen nulis nama dia lagi,,, udah hampir setaun, Dev. Kamu harus inget,,,,

Iya,,, iya,,, ak khilaf sebentar. Tapi emang kok, Ry,,, ak gak bisa bener-bener ngelupain dia,,, & ak juga masih (sedikit) sayang dia,,, Tapi ak akan konsisten dengan jalan yg udah ak ambil. Jadi tenang aja. Tapi gimana ya seandainya besok-besok ak tau dia jadian ma cewek laen?

Aaaahhhh,,, kok diterus-terusin sih. Udah,,,

OK,,, maap,,, ganti topik.

Sekarang ak mesti nulis namaku dengan Deffina Frestianggara, S.Sn

Hahaha,,,, keren kan? Tapi ngomong-ngomong abis ini ngapain ya? Kayaknya masih ngajar di sanggar. Coba ngelamar juga ah,,, Ya udahlah,,,

Heh,,, capek,,, hari ini seneng-seneng terus,,,

Udah ya, Ry,,,

23.50


Ak membaca berlembar-lembar diaryku masa kuliah. Dan 10 Oktober 2009 adalah terakhir kali ak menulis nama Bimo. Lalu,,, Apa hari ini ak mesti menulis nama dia lagi? Ah,,, ak nggak sanggup. Tapi,,, uh,,, akirnya ak ambil juga pulpen warna hitam di meja. Menulis di atas lembar-lembar warna putih hingga ak tertidur karena lelah.


Pagi yang cerah,,, setiap pagi memang cerah kan? Apalagi musim kemarau seperti sekarang.

Pelangi,,, pelangi,,, alangkah indahmu,,,

Merah kuning hijau di langit yang tinggi,,,

Pelukismu agung,,, siapa gerangan,,,

Pelangi,, pelangi,,, ciptaan Tuhan,,,

“Pgi, Dev,,, mo brgkt krj y?Nnt siang bs mkn bareng g?ak pgn ngobrol ni”

Ternyata hapeku masi mengenali pengirim sms ini. Bimo.

“Pgi jg, iy ni mo brangkat.mkn siang?Em,,,nnt ak sms lg de.soalny ak g bs kluar kantor lama2”

“OK.ak tunggu smsny”

Ya Tuhan, ak smsan lagi sama Bimo, setelah sekian tahun. Dan dia ngajak ak makan siang bareng,,, Duh, Tuhan,,, ak mesti gimana? Salah nggak sih kalau ak berhubungan lagi sama Bimo. Bimo kan sekarang udah punya cewek. Tapi ak cuman pengen jadi temenny kok. OK, mungkin ak masih,,, Ah, tapi beneran deh. Jadi temennya aja ak udah seneng. Ak nggak akan berharap lebih.

“Pagi, Mbak”

“Pagi, Retno”, ak balas menyapa resepsionis kantorku.

Ah,,, pagi ini benar-benar cerah. Segera saja ak masuk ruangan dan menyalakan komputer. Beberapa lagu ku putar untuk menemaniku bekerja hari ini.

Di kala hati resah,,, sribu ragu datang memaksaku

Rindu smakin menyerang,,,

Kalaulah ku dapat membaca pikiranmu

Dengan sayap pengharapanku ingin terbang jauh

,,,

Iya,,, nggak,,, iya,,, nggak,,, iya,,, nggak,,, Ak masih belum memutuskan apakah ak akan makan siang sama Bimo. Padahal sekarang jam sudah menunjukkan pukul 11.45. Sedang ak seharusnya sudah memberi kabar pada Bimo. Uh,,, kenapa semuanya jadi terasa sulit.

“Bimo, jd mkn siang bareng?tp yg deket2 kantorku aj y.gmn?”

“OK.ak k kantormu skg”

Oh,,, akhirnya ak kirim juga sms yang sebenarnya sudah ak ketik dari 30 menit yang lalu. Dan Bimo pun sudah membalasnya. Ah,,, siang ini akan jadi siang yang indah.

12.30. Aku dan Bimo berjalan berdampingan menuju cafeteria yang berjarak 2 blok dari kantorku. Itu adalah tempat favoritku bila ak tak punya banyak waktu untuk makan siang seperti sekarang.

“Mo ada rapat ya?”, Tanya Bimo begitu kami sampai.

“He?”

“Ya itu, kok gak bisa lama-lama keluar kantor”

“Oh, iya. Mo ada klien. Janjiannya sih jam 2”

“Oh gitu,,,”

“Em,,, Bim, emang gak papa ya kamu makan siang bareng ak? Maksudku apa kamu gak makan bareng Danisa?”, tanyaku kuatir juga.

“Sebenernya ak sama Danisa gak biasa makan siang bareng. Jadi bebas aja mo makan siang sama sapa aja”

“Oh,,,”, kataku lega.

“Kamu sendiri? Biasanya makan siang sama sapa?”, tanya Bimo.

“Biasanya sih sama anak-anak kantor. Tapi gak jarang juga sendirian”

“Em,,, pacar kamu?”. Ak tertawa mendengar pertanyaan Bimo.

“Kamu yang terakhir”, kataku kemudian dengan maksud bercanda tapi Bimo terdiam. Suasana jadi tidak enak.

“Oiya, masih sering ketemu anak-anak kampus?”, sambungku cepat.

“Ada sih beberapa”

“Gimana kabar mereka?”. Untunglah Bimo kembali ceria.

“Baik. Eh, tau gak kalo …….”

Kemudian kami terlibat obrolan seru tentang teman-teman kuliah beserta cerita-ceritanya. Bernostalgia dengan hal-hal yang pernah kami lakukan dulu. Membahas hal-hal yang belum sempat kami bahas. Tertawa, ak melihat Bimo tertawa. Ak melihat dia bahagia. Ak melihat sinar matanya. Meneduhkan, membuatku nyaman. Ak melihat bibirnya mengucapkan kata demi kata. Ak melihat alis tebalnya naik turun saat ia bercanda. Bimo ada di hadapanku kini. Hanya ada dia dan ak di sini.

“Abis makan, enaknya bales dulu ni”, seruku sambil mengeluarkan sebungkus rokok.

“Eh, bisa gak, cuman saat ini aja kamu gak ngrokok”

“Kenapa? Emang kamu udah nggak”

“Masih. Tapi nggak enak aja liat kamu ngrokok”

“Ya emang kenapa?”

“Kamu tuh dari dulu nggak pantes pegang rokok. Aneh. Lagian kamu nggak kasian sama badan kamu?”, Bimo menjelaskan. Tapi entah mengapa penjelasan Bimo membuatku marah.

“Denger ya, ni tuh badan-badan ak, uang yang buat beli juga uang aku. Jadi terserah dong ak ngisep apa nggak”. Ak tetap mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan korek api. Ak menghisapnya dalam-dalam dan tidak peduli dengan Bimo yang diam sambil memperhatikanku.

“Oiya, udah jam 2 kurang nih. Ak mesti balik ke kantor. Makasih makan siangnya”, kataku kemudian.

“Sama-sama”, balas Bimo. Kemudian kami kembali ke kantorku karena mobil Bimo diparkir di sana. Selama perjalanan kami saling diam. Ak enggan memulai pembicaraan. Ak sudah malas gara-gara Bimo mempersoalkan kebiasaan merokokku. Bimo pun sepertiny mengikuti saja ke-diam-anku. Ah,,, Bimo selalu begitu. Dia seakan tidak mengerti bahwa ak selalu menunggu ia mengucapkan sesuatu untuk mencairkan suasana.

“Em,,, ya udah. Kamu selamat bekerja. Semoga sukses ketemu kliennya”, kata Bimo sebelum ak masuk kantor.

“Oiya, kamu selamat nerusin kerja juga”, balasku kemudian berlalu.

Ah,,, kenapa akhirnya selalu begini. Padahal ak ingin siang ini berakhir dengan senyuman. Hhh,,, ak kemudian menyalakan kembali komputer sambil menunggu tamuku datang.

19.31. Hari yang melelahkan. Ak duduk di depan teve, padahal ak sedang tidak menikmati acara apapun. Ayah masih berkutat dengan pekerjaannya.

Pelangi,,, pelangi,,, alangkah indahmu,,,

Merah kuning hijau d langit yg tinggi,,,

Pelukismu agung,,, siapa gerangan,,,

Pelangi,, pelangi,,, ciptaan Tuhan,,,

Pasti ada sms. Bimo, ternyata.

“Dev,maap y.pasti km td marah y sm ak?”

“O,,,gpp ko.ak g mrh.tnang aja”. Beberapa menit setelah balasannya ak kirim. Hapeku kembali berbunyi. Tapi kali ini bunyi tanda ada yang menelpon. Bimo.

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

“Dev, kamu beneran gak marah?”

“Iya, kenapa sih kok tanya lagi?”

“Maap. Seharusnya ak nggak sok nasehatin kamu. Kamu kan pasti punya penilaian sendiri kenapa merokok. Lagian ak juga bukan sapa-sapa kamu”

“Bim, gak usah segitu seriusnya kali’”

“Ya gak papa. Biar besok-besok kamu gak kapok ak ajak makan siang lagi”

“Hahaha,,, kamu tu ya. Tenang aja. Ak masih mau kok diajak makan siang lagi. Asalkan ditraktir”

“Pastiny. Eh, udah dulu ya. Sampe’ ketemu lagi”

“Yuk,,,”

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

Bimo,,, Bimo,,, tetep dengan ke-gak penting-annya. Tapi ak suka. Oups,,, ak bilang apa? Suka? Hehehe,,, sepertinya memang begitu.


bersambung ...

Saturday, August 13, 2011

Yang telah pergi akan datang kembali…. #2

cerita sebelumnya:
Ah,,, aku menyerah. Terserah apa yang Bimo inginkan. Aku berjalan menuju kamar mandi. Bukan ke lantai atas seperti yang aku katakan pada mereka tadi. Segera saja aku masuk ke salah 1 toilet wanita & duduk di atas closet. Sambil memejamkan mata, aku mengatur emosiku dengan cara yang sama yang aku lakukan tadi pagi. Menarik napas & menghembuskannya berulang-ulang beberapa kali.
Entah mungkin karena terlalu lama aku memejamkan mata, tiba-tiba ingatanku kembali ke kejadian 3 tahun lalu. Waktu itu aku masih kuliah. Semester 7 ...
_____________________

Perlahan mataku terbuka. Itu nyata & itu pernah terjadi. Salah 1 keputusan yang ak sesali pernah ak lakukan. Menarik nafas ternyata tidak terlalu menenangkanku. Karnanya ak mengambil sebungkus rokok dari saku blazerku & mengeluarkan sebatang untuk kemudian ak sulut dengan korek. 3 hisapan cukup membuatku kembali tenang. Sambil terus menghisap rokok, ak melangkah keluar dari toilet. Suasana sepi. Langsung saja ak jongkok & bersandar pada dinding yang memisahkan pintu kamar mandi wanita & laki-laki.
Beberapa detik kemudian Ibeth muncul. Setelah menyapaku, ia masuk ke dalam toilet.
“Kenapa, Dev? Kok ngisep sambil jongkok gitu. Emang di ruangan nggak bisa?”, tanya Ibeth begitu ia keluar dari toilet.
“Oh, nggak papa. Cuman di ruangan lagi ada klien & sedari pagi ak belum ngisep sama sekali”, jelasku memberi alasan.
“Oh,,,”, balasnya kemudian mencuci tangan di wastafel.
“Beth, mo tanya”, tiba-tiba ak bersuara.
“Tanya apa?”
“Selama ini kamu pernah gak, sibuk nyiapin acara pernikahan. Tapi trus ujung-ujungnya kamu baru sadar kalo mempelai prianya itu mantan kamu. Sedang kamu masih sayang sama dia.. Kira-kira gimana perasaan kamu?”
“Kalo nyiapin pernikahan mantan sih belum pernah. Tapi kalo datang ke nikahan mantan sih pernah. Perasaannya? Em,,, waktu itu ak emang masih sayang sama dia. Kecewa, sakit hati, menyesal, menyalahkan diri sendiri, semua jadi 1. Soalnya yang mutusin hubungan tuh dia. Tapi ya udahlah, semua udah berlalu. Sekarang ak udah dapet gantinya. Hehehe,,,”. Ak ikut tertawa.
“Emang kenapa, Dev? Kamu lagi ngalamin itu sekarang?”
“Ah, nggak. Tanya aja. Kita kan kerja di bidang kayak gini. Ya sapa tau, nggak sengaja mantan kita pake jasa kantor kita buat nyiapin pernikahannya. Kira-kira gimana rasanya. Seneng dapet duit sekaligus sakit ngeliat mantan bahagia. Apalagi kalo kita masih sayang”
“Bener banget, Dev. Yah, mudah-mudahan sih kita nggak ngalamin yang kayak gitu”. Ibeth kembali melihatku dengan seksama.
“Eh, tapi kamu emang nggak papa kan? Maksudku ngisep sambil jongkok, nyandar tembok dengan wajah manyun. Kayak kamu lagi kenapa-kenapa gitu”
“Ah, nggak papa. Cuman lagi capek aja. Tadi malem cuman sempet tidur 5jm”
“Oh, ya udah kalo gitu. Eh,,, ak balik dulu ya”
“Yuk,,, makasi, Beth”
Ak terus menghisap rokokku. Tiba-tiba pintu kamar mandi pria terbuka. Spontan ak melihat ke arah pintu. Oh,,, tidak,,, sejak kapan laki-laki itu ada di dalam sana. Apakah ia mendengar percakapan tadi? Dengan pura-pura tidak peduli, ak memalingkan wajah & kembali menghisap rokok. Dari ekor mataku, ak tau laki-laki itu terus memandangiku. 5, 6, 7, …. 7 detik ia memandangiku. Tiba-tiba ia bertanya.
“Sejak kapan merokok?”. Ak sempat kaget. Tidak menyangka ia bersuara.
“Eh, oh,,, udah ada setaun”, jawabku sekenanya tanpa memberi penjelasan yang lain.
Tanpa sempat ak menghindar, tangannya kemudian menyambar rokokku yang tinggal setengah. Mematikan apinya & membuangnya ke tempat sampah. Kemudian berlalu keluar tanpa mengatakan apa-apa. Begitu cepat hingga ak pun hanya bisa melongo sambil jemariku tetap berposisi menyapit rokok. Hei,,,, apa-apaan ini? Kenapa dia seenaknya sendiri. Tiba-tiba menanyaiku, beberapa detik kemudian mengambil rokokku. Apa maksudnya? Ah,,, ak tak pernah mengerti jalan pikirannya.
Setelah mencuci tangan & mengulum permen mint, ak berjalan kembali ke ruangan. Ak mencoba bersikap biasa seperti baru saja tidak terjadi apa-apa. Ah,,, ternyata Bimo lebih pandai bersikap seperti itu.
“Gimana? Ada perubahan?”, tanyaku pada Danisa.
“Ada sih. Kita pengen yang modelnya kayak gini. Tapi motifnya kayak gini. Trus soal fontnya bisa nggak yang lengkung-lengkung gitu?”, jelas Danisa sambil menunjuk beberapa desain.
“O,,, gitu. Bisa. Oya, ini ada beberapa contoh font. Mungkin ada yang menarik”
“Em,,, kayaknya yang ini cocok deh. Iya kan, Tun?”, tanya Danisa pada Bimo. Tun? Oh,,, pasti panggilan sayangnya. Tuno, Tune, Tunomi, atau,,, ah,,, apalah itu.
Setelah terjadi kesepakatan, kami bercakap-cakap santai. Dari situ ak tau kalo Bimo sekarang bekerja di sebuah perusahaan asing. Mereka sendiri bertemu setelah salah 1 teman Danisa mengenalkannya pada Bimo. Ak berpura-pura tidak terlalu ingin tau dengan hanya mengangguk & sesekali tertawa mendengarkan cerita Danisa. Sedang Bimo hanya sesekali tersenyum. Ah, Bimo,,, kenapa kamu tidak bertanya bagaimana kabarku.
“Dev, kalo gitu ak permisi dulu ya. Mo liat butik yang kamu promosiin itu”, Danisa tersenyum.
“OK. Eh, tapi emang bagus-bagus kok gaunnya. Buat pesta model apa aja ada. Eya, jangan lupa 1 minggu lagi ke sini. Buat liat desain yang baru”
“Pasti. Nanti ak telpon kamu dulu. Ya udah, makasi ya kerjasamanya”, Danisa menyalamiku.
“Sama-sama”. Ak membalasnya. Kemudian menyalami Bimo yang hanya tersenyum.
Setelah mereka keluar dari ruanganku, ak kembali ke tempat duduk kemudian menyalakan komputer. Segera saja ak memilih beberapa lagu untuk menemaniku bekerja hari ini.
I always needed time on my own
I never thought I’d need u there when I cried
And the days feel like years when I’m alone
And the bed where you lie is made up on your side
When you walk away I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now
,,,,
Huh,,, konsentrasi bekerja ternyata obat paling mujarab untuk membuang semua ingatan akan masa lalu, walau sejenak. Menggambar adalah kegemaranku sejak kecil. Jadi bekerja di sini sama saja dengan menyalurkan hobiku. Semua ak lakukan dengan senang hati.
Jam 18.30. Tidak terasa. Ak sudah seharusnya pulang. Bila tidak Ayah akan menelponku terus. Maklumlah hanya ak temannya di rumah selain seorang pembantu. Setelah Ayah & Ibu bercerai, ak ikut Ayah. Sedang saudaraku yang lain tinggal dengan Ibuku di luar kota. Jadi Ayah sangat menjagaku.
Segera sampai rumah, mandi air hangat kemudian makan & ditutup dengan susu coklat hangat sepertinya kegiatan yang menyenangkan setelah ini. Dengan cepat ak keluar dari pintu kantor yang mulai sepi. Kecuali beberapa orang yang sedang lembur. Saat tanganku hendak memasukkan anak kunci pada lubang kunci tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namaku.
“Deva,,,”. Kucari arah datangnya suara. Ah,,, tidak, kenapa dia?
“Bimo?!?”, jawabku heran.
“Ngapain di sini?”, tanyaku sambil melihat ke belakang laki-laki itu, mungkin ada seseorang yang menyertainya. Tapi ternyata ia sendiri.
“Mau pulang ya?”. Ak tak menjwb, hanya mengerutkan dahi.
“Bisa ngobrol sebentar?”. Setelah berpikir sejenak, ak berjalan ke arah taman & duduk di sana. Untunglah penerangan di sini cukup. Jadi bisa dimanfaatkan sebagai tempat mengobrol di malam hari.
“Kalo soal undangan, tenang aja. Pasti ak selesaikan dengan baik”, kataku kemudian.
“Kamu apa kabarnya?”, tanya Bimo seolah tidak peduli dengan kalimatku. Ak diam, mencoba mengerti akan kemana arah pembicaraannya. Tapi ak menyerah.
“Baik. Em,,, ada maksud apa datang ke sini jam segini?”
“Oom gimana kabarnya?”
“Baik. Kamu dari tadi nungguin di parkiran ya?”
“Selamat ya. Kayaknya karirmu sukses”
“BIMO,,, sebenernya semua ini maksudnya apa sih?”. Setelah terdiam beberapa saat, Bimo menjawab.
“Ak cuman pengen ngobrol sama kamu. Udah lama banget kita nggak kayak gini”. Setelah mendengar kalimatnya, justru ak yang terdiam. Kenangan itu muncul lagi dlm ingatanku.
“Gimana kabarmu?”, tanyaku kemudian.
“Baik”
“Oom, Tante, sama Krisna, gimana juga kabarnya?”
“Semua baik”
“Masih suka ke kampus?”
“Nggak juga. Palingan kalo ada pensi aja”
“Oh,,,”. Ak sibuk berpikir pertanyaan apa lagi yang bisa kuajukan.
“Dev,,, ak tanya boleh?”, tanya Bimo tiba-tiba.
“Boleh”
“Kenapa setelah hari itu, kamu nggak pernah nyapa ak lagi?”. Oh iya, sejak proklamasi putus itu ak memang tidak pernah menyapa Bimo. Sama sekali. Ak mencoba mengingat apa sebab pastinya.
“Sebenernya ak mengabulkan permintaanmu”, jawabku.
“Maksudnya?”
“Bukankah kamu pernah bilang, kalo kamu nggak bisa memulai hubungan dari awal sama mantanmu. Jadi ak mengabulkannya. Ak takut melihat & menerima reaksimu yang akan menganggapku seperti musuh yang pernah menyakitimu. Makanya sejak saat itu ak nggak pernah nyapa kamu”. Bimo diam mendengar penjelasanku.
“Apalagi sehari setelah kejadian itu kamu seperti menganggap ak ini nggak ada. & hari-hari berikutnya kamu kayak menghindar dari ak. Hal itu semakin membenarkan opiniku kalo kamu emang nggak pengen lagi berhubungan sama ak”. Ak melihat ke arah Bimo, sedang Bimo hanya menatap lurus ke depan.
“Em,,, apa pemikiran itu benar? Maksudku kenapa waktu itu kamu seperti menghindari ak?”, tanyaku karena Bimo tidak juga bersuara.
“Ak,,, Ak pikir kamu bener-benar marah sama ak, sampe nggak mau nyapa ak lagi. Aku pikir kamu benci ak, sampe kamu kayak nggak mau kenal sama ak. & mungkin kamu akan terganggu akan kehadiranku. Jadi ak mencoba nggak ada di sekitarmu”
“Oh,,, jadi gitu keadaannya”, kataku tersadar bahwa selama ini telah terjadi miss understanding antara kami.
“Kalo gitu ak minta maap”, sambungku.
“Sama-sama. Ak juga minta maap”, balasnya. Lalu kami terdiam lagi.
“Oy, sebenernya sampe pagi tadi ak masih ngerasa kalo kamu nganggep nggak pernah kenal sama ak”, kataku kemudian.
“Bukannya kamu yang mulai bersikap kayak gitu?”, seloroh Bimo. Ak tersadar kemudian tertawa & Bimo ikut tertawa.
“Btw, selamat ya,,, Bentar lagi kan kamu mau nikah sama Danisa. Danisa itu cewek baik lho. Kamu mesti jagain dia”
“Oya, salamat ya, bandnya tetep jalan”, sambungku. Tapi Bimo hanya tersenyum.
Tiba-tiba,,,
‘Cause we lost it all,,,
Nothing last forever,,,
I’m sorry I can’t be,,,
“Oups,,, bentar ya”. Handphoneku berbunyi. “hOMe SwiT HoMe”. Ya ampun, ak sampai lupa telpon Ayah. Pasti Ayah mencariku.
“Assalamu’alaikum… Masih di kantor, Yah… Iya, bentar lagi pulang kok. Maap ak lupa telpon... Iya, Ayah... Wa’alaikumsalam,,,”. Kemudian ak memasukkan lagi hp ku ke dalam tas.
“Oom ya?”, tanya Bimo.
“He-eh. Eh, kayaknya ak mesti pulang nih. Udah ditungguin Ayah”
“Em,,, gitu y. OK. Makasi udah mau ngobrol, lagi”
“Sama-sama”
“Eya, nomer hp kamu berapa?”
“Tetep kok. Nggak pernah berubah. Ya, kecuali kalo memori hp kamu kehapus semua”. Bimo tersenyum.
“Pulang dulu ya”, pamitku kemudian berjalan menuju mobil.

bersambung ...